Cerita Phonesex Nikmat
CERITA PHONESEX.. LANJUTAN LIAT DI COMENTAR..Ketika Asmirandah hendak mulai memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya.
“Siapa..?”, ujarnya sedikit malas.
“Miranda, ada telephone untuk kamu di depan”, ujar suara Viandi teman kostnya dari balik pintu.
“Dari siapa..?, Asmirandah bertanya lagi.
“Nggak bilang namanya, cuman katanya dari kakakmu, tapi suara cowok, kakak yang mana sih San..?, temannya menjawab dengan penuh selidik.
Asmirandah bergegas Abangkit dari ranjangnya, ia tahu persis siapa ‘kakaknya’ itu. Lalu sambil membuka pintu kamarnya ia berkata,
“Terima kasih yaa.. Viian, dia memang kakakku yang baru datang dari Malang..”. Asmirandah terpaksa sedikit berbohong kepada temannya mengenai siapa ‘kakaknya’ itu. Ia tidak ingin teman-temannya tahu mengenai siapa ‘kakaknya’ itu, terlebih pada Viandi teman sebelah kamarnya yang terkenal suka menggosip.
Asmirandah lalu melangkah cepat ke ruang tamu yang berseberangan dengan kamarnya. Ketika ujung gagang telephone telah diangkat ke telinganya terdengar suara lelaki yang sudah sangat diakrabinya.
“Halo Miranda, ini AAbang..”, aku menyapanya.
“Halo Abang, ini lagi di mana..”, ujar Miranda dengan nada gembira yang sengaja disembunyikannya.
“Lagi di rumah dong.., Miranda sudah mau bobo’ yaa..?”, tanyaku lagi.
“Ahh.. belum kok, Miranda belum ngantuk..”, jawab Miranda sedikir berbohong.
=
“Kenapa..?”, tanyaku lagi.
“Abis, Miranda mikirin Abang.., ‘kan mestinya hari ini udah Masuk kantor”, Miranda berkata dengan penuh terus terang.
“Terima kasih.., kamu inget sama Abang, soalnya tadi Abang Abangih capek Banget, jadi Abangih males Masuk ke kantor. Tapi ngomong-ngomong, presentasi-nya sukses lho, San. Makasih yaa.. buat bantuanmu nyiapin materi”, ujarku beralasan.
“Sama-sama, Abang.. Selamat yaa..”, ujar Asmirandah mViandimpali pernyataanku.
“Iyaa.. iya.. kalau aku sukses kan berkat kamu juga, jadi sukses kita sama-sama kan. Ehh.. ngomong-ngomong kamu lagi di ruang mana nih? #ceritasex #ceritahot #ceritamesum #ceritadewasa #ceritakimcil #vcs #chatsex
ceritasex99“Di ruang tamu, Abang”
“Lagi banyak orang nggak di situ”
“Ada si Viandi yang lagi nonton TV, yang lain udah pada bobo’. Ehh.. Abang, telephone-nya aku bawa ke kamar dulu yaa..”, bisik Asmirandah pelan. Ia berkata demikian karena khawatir Viandi akan menguping pembicaraan mereka. Kebetulan karena letak kamar Asmirandah dekat dengan ruang telephone itu, maka kabelnya dengan mudah bisa ditarik ke kamarnya melalui jendela.
“Abang, sekarang udah aman, nggak ada siapa-siapa.. nggak ada yang nguping”, Asmirandah memberi sinyal kepadaku.
“Miranda, Abang kangen.. nih sama kamu, pengin melukin kamu..”, aku mulai mengatakan perasaanku yang sebenarnya.
“Ahh.. Abang, Miranda juga kangen tapi gimana dong..?”, Asmirandah berucap pelan.
“Abang pengin Banget bercinta dengan kamu, sekarang..!!”, aku berkata jujur. Asmirandah sedikit kaget mendengar pernyataanku yang straight forward itu. Namun dalam hati ia mengagumi caraku yang tetap halus namun tanpa basa-basi itu.
“Miranda, juga.., tapi gimana”, ujar Asmirandah kembali.=
“Miranda bantuin Abang yaa..”, aku meminta kepadanya.
=
“Bantuin apa..?”, ujar Asmirandah bingung.
“Bantuin biar rasa kangen Abang terobati”
“Miranda mau mbantuin Abang apa saja, sepanjang Miranda bisa. Miranda mau Abang bahagia”, ia menjawab permintaanku dengan nada lirih hampir berbisik.
ceritasex99Mendengar pernyataannya yang terakhir itu, aku makin tidak bisa mengendalikan perasaanku, dan akupun semakin ingin membayangkan ia sedang berdiri dihadapanku saat ini. Aku ingin sekali..
“Miranda pakai baju apa sekarang?”, aku bertanya lagi.
“Pakai daster warna merah muda.., Abang pakai apa”, Miranda balik bertanya.
“Ehmm.. Abang cuman pakai celana tidur satin hitam, nggak pakai apa-apa lagi.. Kamu pakai apa di balik dastermu San..?”
“Miranda nggak biasa pakai bra kalau mau tidur, tapi Abangih pakai celana dalam warna krem”
“Yang ada renda-rendanya itu?”, aku bertanya penuh rasa penasaran.
“He.. em”, ujernya pendek.
Itulah awal pembicaraan kami di telephone yang dipenuhi oleh percakapan penuh rasa romantisme yang membakar sensualitas fantasi kami. Lalu kami saling bercerita canda panjang lebar untuk menanyakan keadaan Masing-Masing. Suara Miranda yang memang sangat seksi ditelingaku itu, seolah mendesah-desah penuh manja, membuat kejantananku semakin menegang terangsang di balik celana tidur satin yang aku kenakan.
Ditengah-tengah percakapan yang makin mendebarkan itu, Asmirandah menggeletakkan tubuhnya setelah bosan tidur miring. Kamar tidur sengaja ia gelapkan, karena ia ingin suasana percakapan itu semakin romantis, selain itu ia memang tidak akan bisa tidur dengan cahaya yang terlalu terang. Ah, tiba-tiba darah Asmirandah berdesir karena rasanya ia Abangih bisa mencium bau wangi tubuhku. Bau yang kini mulai diakrabinya: segar dan penuh aroma kejantanan. Tidak seperti tubuh lelaki lain di kantornya yang terlalu penuh minyak wangi sehingga berkesan sintetis. Ah, kini ia mulai membanding-bandingkan antara aku dengan teman-temannya yang lain, keluh Asmirandah dalam benaknya.
“Abang..,” bisiknya perlahan sambil menelungkupkan muka ke bantal,
“Apa yang ingin Abang lakukan kepadaku?”
“Miranda, Abang sedang membayangkan kamu. Kamu mau tahu nggak yang sedang Abang bayangkan..?”, aku berujar pelan.
“Hee em..”, Asmirandah mendesah lagi mengiyakan.
ceritasex99“Abang membayangkan sedang mencumbumu. Tangan Abang sedang membelai setiap centi kulit indahmu. Bibir Abang sedang mengusap-usap lembut rambut-rambut halus di belakang telingamu, lalu beralih ke bibir indahmu”, aku mulai menceritakan fantasiku kepadanya.
Di depan mataku seakan-akan ada sebuah film yang diputar berulang-ulang, berisi gambar indah percumbuan kami yang sangat singkat tetapi sangat menggairahkan itu. Bibir basah yang merekah pasrah itu, tergambar jelas di mataku. Harum nafasnya yang menggairahkan itu, tercium jelas di hidungku. Kelembutan lidah dan bagian dalam mulut itu.. hmm, semuanya terasa seperti nyata malam ini. Amat sangat nyata, sampai-sampai aku menelan ludah berkali-kali. Jantungnya berdegup kencang, seperti ketika waktu itu aku melumat bibir bidadari yang amat aku dambakan.
“Teruss..?”, Asmirandah berucap pelan sambil mulai memejamkan matanya. Bayangan percumbuan kami di dalam mobil seminggu yang lalu nampak jelas di pelupuk matanya.
Asmirandah Abangih ingat betapa aku mengulum lembut bibir tipisnya dengan luapan perasaan yang apa adanya. Betapa menggairahkannya ciuman itu! Aku melakukannya dengan sepenuh hati, sehingga rasanya tidak setengah-setengah. Ketika aku mengulum bibirnya, aku melakukannya dengan penuh perasaan, membuat dirinya terbuai-buai bagai tidur di atas awan di angkasa sana. Tak sadar Asmirandah meraba bibirnya dengan ujung jari. Ia dengan mudah bisa merasakan kembali ciuman itu. Tak mungkin ia bisa melupakannya.
ceritasex99“Terus bibir Abang turun ke arah lehermu. Lalu Lidah Abang menyapu-nyapu lembut di sana dan kamu merasa geli tetapi juga nikmat.. Kamu bisa merasakannya, ‘yang?”, aku melanjutkan.
“Oocch.. iyaa.. Abang, teruss..”, Miranda semakin tidak sabar menuggu kelanjutannya sambil jemari tangannya membelai-belai lehernya sendiri, mengikuti fantasiku. Jemarinya mengalir pelan di sepanjang lehernya yang jenjang, sesekali berhenti di belakang telinganya lalu mengalir turun ke arah dadanya.
“Bibir Abang semakin turun ke bawah, turun.. dan turun pelan-pelan sekali. Sekarang, Abang sedang melumati kedua puting payudaramu, bergantian yang kiri.. lalu yang kanan.. Tangan Abang meremasnya lembut.. Ooocch.. Miranda, Abang rasanya nikmat sekali.. Kamu juga merasakan hal yang sama, sayang?”, aku berhenti sejenak. Aku mendengar Asmirandah mendengus pelan..
Asmirandah tidak kuasa melupakan betapa dadanya yang kenyal dihisap oleh bibirku dan diremas oleh tangan kokohku itu. Oh, itulah cumbuan dan remasan yang tak kalah menggairahkan dari ciuman dibibirnya. Jemari dan bibiriku seperti penuh oleh energi pembakar sukma yang mengirimkan jutaan bulir kenikmatan ke seluruh tubuhnya. Tak sadar, Asmirandah mengerang kecil, meremas seprai dengan satu tangannya. Ia seperti merasakan lagi hisapan dan remasan jemari itu di dadanya. Gesekan nilon tipis pakaian tidurnya tiba-tiba seperti mewakili remasan itu. Ia tidur tanpa beha
kISAH NYATA CERITA DEWASA : www.tempatceritasex.com
Oh, kedua putingnya ternyata sudah mengeras. Kenapa jadi begini? Keluh Asmirandah sambil mengerang lagi, lalu memiringkan badannya, meraih bantal guling.
Lalu kembali aku melanjutkan fantasiku
“..putingmu, keduanya mulai mengeras dan semakin mengeras. Warnanya merah kecoklatan, kecil, panjang dan makin menjulang.. Abang juga menciumi lingkaran coklat di sekelilingnya, bergantian yang kiri dan yang kanan. Kamu mulai menggelinjang.. kamu meremasi rambut Abang dan menekan kuat-kuat kepala Abang di dadamu”, aku menceritakan fantasiku sambil membayangkan seolah-olah aku memang melakukan aktifitas itu.
ceritasex99“Oocch.. Abang, teruskan..”, Asmirandah mendesah lagi ketika aku terdiam sesaat. Tangannya meraba lembut di atas dadanya, dan ternyata memang benar.., putingnya telah mulai mengeras. Ia tersenyum sambil matanya tetap terpejam, sementara telinganya tetap berkonsentrasi penuh untuk mendengarkan suaraku di seberang sana.
“Tanganmu kini juga mulai meremas-remas lembut kejantanan Abang di bawah sana. Miranda.., kamu memang luar biasa.. Kamu mengusap sepanjang batangnya, pelan-pelan ke atas lalu kebawah lalu ke atas lagi. Remasan jemarimu berhenti di pangkal bagian atasnya yang membulat keras, lalu sesekali jari telunjukmu menyentuh-berputar pada luAbang di ujungnya. Kamu mengusapnya lagi ke arah bawah pelan sekali, kamu meremasi ke dua bola di pangkal bawahnya, kamu memeras, meremasnya di sana.. Oocchh..”, aku berhenti sejenak. Tanganku tetap bergerak-gerak di bawah sana melakukan aktifitas seperti yang aku ceritakan kepadanya.
Udara dingin menyebabkan aku harus menyelimuti badanku, tetapi sentuhan selimut di atas kejantananku yang hanya tersaput celana dalam tipis ternyata berdampak lain. Kenangan erotis tentang Asmirandah membuat diriku terbakar birahi. Perlahan tapi pasti, kejantananku menegang. Semakin lama, semakin tegang, berdenyut penuh gairah.
“Oocchh.. Abang.. Miranda juga sedang membayangkan hal itu terjadi sekarang”, Miranda pun mulai benar-benar hanyut dalam fantasi yang sama denganku.
Kira-kira hampir semViandit kami berdua hVianding, tidak bersuara. Kami benar-benar sedang terhanyut dalam sensasi seksual Masing-Masing, sementara Masing-Masing tangan kami yang terbebas dari gagang telephone melakukan aktifitas untuk memAbangkitkan gairah. Suara dengusan, rintihan pelan dan hembusan nafas panjang saling mViandimpali, membuat suasana semakin romantis. Ketika aku semakin tidak kuasa menahan rasa geli, nikmat di bawah sana, aku menghentikan aktifitas tanganku. Aku mengangkat sedikit tubuhku dan dengan sekuat tenaga aku turunkan sedikit celana tidurku dengan satu tangan, untuk memberikan keleluasaan pada kejantananku.
ceritasex99“Asmirandah,” bisikku, “Sedang apa kamu di sana? Kamu mau tahu nggak apa yang Abang barusan lakukan?”
“Hee.. emm..”, desahnya pendek.
“Celana tidur Abang sekarang telah terlepas, kejantanan Abang sudah tegak menegang, kamu Abangih ingat jelas bentuknya ‘kan? Sekarang maukah kamu melepas celana dalam kamu juga ‘yang..?”, aku menceritakan keadaanku sekaligus memohon kepadanya untuk melakukan hal yang sama.
“Iyaa.. Abang, sekarang Miranda juga sudah terbebas..”, ujar Asmirandah mengabulkan permintaanku. Celana dalamnya telah beranjak ke bawah pahanya. Sebenarnya sudah sedari tadi ia ingin melakukan hal itu.
Angin dingin menimlbukan suara berkesiut di luar jendela kamar tidur Asmirandah. Ia menelentang kembali, kini dengan mata terbelalak sepenuhnya. Kamar tidur yang senyap itu sebenarnya dingin sekali. Tetapi tubuh Asmirandah seperti dibakar api, dan ia terkejut sendiri ketika tak sengaja tangannya menyentuh selangkangannya. Celana dalamnya agak basah, dan sebuah rasa geli yang telah lama ia tak rasakan ternyata muncul di sana.
“Oh, aku begitu terangsang malam ini”, desah Asmirandah panik di dalam hati.
“Jangan dulu kamu sentuh yang di bawah sana, Miranda. Please, tanganmu tetap berada di atas. Sekarang kamu arahkan jemari ke mulutmu, lalu kamu hisap pelan, kamu jilat basah hingga pangkal jemari telunjukmu..”, aku melanjutkan permohonanku.
“He.. emm..”, Miranda mendesah sambil mulai meMasukkan jemari ke dalam mulut kecilnya. Jemarinya basah oleh cairan ludahnya sendiri, ia sedang mengkhayalkan sebentuk daging bulat, panjang, lebih besar dan lebih keras dari sosis. Ia mengulumnya pelan, dan sesekali menghisapnya dengan sepenuh perasaan.
“Please, sekarang jemarimu yang basah kamu tarik dari mulutmu, Miranda. Kamu usapkan jemarimu di mana sekarang, ‘yang..?”
Cepat-cepat Asmirandah memindahkan tangannya, tetapi tangan itu jatuh di atas dadanya. Untuk sejenak, ia mencoba mengatur nafasnya yang mulai terengah, tetapi tanpa diperintah tangan itu ternyata mulai meraba-raba. Asmirandah menggelinjang. Asmirandah mendesah gelisah.
ceritasex99Rasa geli menyelimuti puncak-puncak dadanya. Rasa geli yang minta digaruk. Maka menggaruklah jemari-jemarinya, mengusap dan membelai pula. Gagang telephone ia jepit di antara pundak dan kepalanya, dua tangan kini ada di dadanya. Dua-duanya meremas, mengusap, menggaruk, membelai.. Asmirandah mendesahkan namaku berkali-kali dengan bisikan tertahan; kuatir teman di sebelah kamar kost-nya terAbangun.
“Oocchh.. Abang, Miranda sedang memilin lembut puting Miranda. Oocchh.. Abang.. keras sekali, Miranda ingin Abang menggigitnya, Miranda ingin Abang meremasinya.., pelan saja Abang..”, Asmirandah berkata demikian sambil jemari telunjuk dan jempolnya memilin-memutar putingnya dengan lembut.
“Iya.. Sayang, Abang sedang menjepitnya dengan bibir Abang, lalu lidah Abang menyapu-nyapu di ujung putingnya.. Enak sayang..?”, akupun tak kalah dalam mengimbangi fantasinya.
“Iyaa.. Abang.., sekarang tangan Miranda ada di atas perut Miranda”, Asmirandah melanjutkan.
“Iyaa.. sayang, bibir Abang sekarang sedang mencium lembut perutmu yang putih. Lidah Abang berputar-putar di sekitar pusarmu. Lalu Abang turun ke pangkal pahamu.. Terus bibir Abang berhenti di sana..”, aku berhenti untuk menunggu reaksinya.
ceritasex99Asmirandah tak tahan lagi. Dengan satu tangan tetap meremas-remas dadanya sendiri, ia mengusap-usap kewanitaanya dengan tangan yang lain. Celana nilon tipis Abangih menutup sebagian di sana, tetapi tentu saja tak mampu mencegah rasa nikmat yang datang dari telapak tangannya. Apalagi kemudian Asmirandah menelusupkan tangan itu ke balik celana dalamnya, menemukan lembah sempit di bawah sana telah basah oleh cairan cinta. Menemukan pula tonjolan kecil di bagian atas telah menyeruak keluar dari persembunyiannya, menonjol diam-diam menanti sentuhan jarinya.
“Oochh..”, Miranda mengerang pelan sementara jemarinya kini tengah berada tepat di atas gerAbang kewanitaannya yang telah terbebas. Ia benar-benar telah memelorotkan celana dalamnya.
“Lalu Abang menyentuhi rambut kewanitaanmu dengan bibir Abang. Lalu Abang menjilat-jilat lembut bibir kewanitaanmu di bawah sana. Lalu Abang gigit pelan klitorismu.. Abang hisap.., Abang.. gigit, Abang.. hisap lagi. Telunjuk Abang sesekali berputar-putar di atas daging kecil merah itu..”, aku kembali mengendalikan fantasinya.
“Oocch.. Abang, Miranda pengin Abang.. Miranda pengiinn.. oochh.. sekarang..”, Miranda tidak kuasa meneruskan kata-katanya.
“Iya.. sayang, Abang juga.. Abang sekarang akan meMasukkan jemari Abang ke dalam kewanitaanmu Miranda..”, aku berbisik lembut kepadanya.
“Oocchh..”, Miranda mengerang pelan.
Asmirandah menggigit bibir bawahnya, tersentak bagai tersengat listrik, ketika ujung telunjuknya tak sengaja menyentuh tonjolan kenikmatan itu. Sebuah desah cukup keras menghambur keluar dari mulutnya. Untung teman-teman sekostnya sudah terlelap sehingga mungkin tak akan terAbangun walau Asmirandah berteriak sekali pun.
“Jemari Abang Masuk.., berdenyut lembut di dalam sana. Kamu menghentak, kamu menjepit. Jemari Abang keluar.. Masuk.. keluar.. Masuk.. pelan sekali.. lembut sekali.. Semakin licin, kamu semakin berdenyut, kamu menggelepar pelan..”, aku berkata demikian sambil semakin keras mengocok kejantananku sendiri.
Aku meraba-raba kejantananku. Mengerang pelan karena merasakan tubuhku mulai bereaksi seperti biasanya, menyebabkan semua ototku terasa menegang, bagai seorang pelari yang sedang bersiap-siap melesat dari garis start. Kejantananku sudah menegang setegang-tegangnya. Bergetar seirama degup jantungku yang tak teratur. Naik turun seirama nafasnya yang mulai memburu.
Mula-mula, aku hanya mengusap-usap kejantananku di atas kulit lembutnya. Mengelus-elus perlahan, menimlbukan rasa geli yang samar-samar, seakan-akan untuk meAbangtikan bahwa segalanya berjalan perlahan menuju tempat tujuan. Tetapi, sebentar kemudian gerakan tanganku semakin cepat, bukan lagi mengusap tetapi menguyak-uyak. Nafasku semakin memburu. Rasa geli yang nikmat tersebar sepanjang kejantananku yang terasa bagai batang besi panas membara.
ceritasex99“Abang.., sekarang Miranda benar-benar sudah basah.., Miranda ingin bercinta dengan Abang.. Masukkan kejantananmu sekarang Abang, please..”, sekarang giliran Miranda yang memohon kepadaku.
“Iya sayang.., kejantanan Abang juga sudah keras menegang. Sekarang Abang mengarahkannya ke dalam gerAbang kewanitaanmu, tanganmu meremas batang kejantanan Abang, sembari mengarahkan ujungnya ke sana. Abang mengusapkan pada bibir kewanitaanmu, Abang merasakan basahnya cairan cintamu, lalu Abang melesak pelan”, aku berkata dengan cepat sambil tanganku semakin keras meremasi kejantananku.
Aku tak tahan lagi. Tanganku memelorotkan celana tidurku makin jauh, meremas batang tegang yang membara di bawah sana. Lalu dengan tidak sabar aku memelorotkan lagi celana tidurku hingga ke mata kakiku, hingga kini kejantananku bisa benar-benar terbebas, tegang menjulang. Jemariku meremasinya, membelai di sepanjang batangnya.., pelan sekali.., lembut sekali.. dari atas ke bawah, keatas, kebawah lagi.. Segera aku merasakan pinggulku bagai berubah menjadi kaldera gunung berapi yang penuh lahar menggelegak. Setiap kali aku meremas, setiap kali pula gelegak itu bagai hendak meluap keluar. Setiap kali pula aku mengerang dengan otot leher menegang seperti seorang yang sedang menahan sesuatu dengan susah payah.
Remasan tanganku semakin lama semakin teratur, diikuti gerakan naik turun seperti memeras. Setiap kali gerakan itu sampai ke ujung yang membengkak-membola itu, aku merasakan tubuhku seperti disedot ke dalam pusaran air birahi. Aku menggeliat-geliat keenakan. Kedua kakiku merentang tegang, dengan tumit tenggelam dalam-dalam di kasur. Aku mengerang.
ceritasex99“Ooochh.., teruskan Abang..”, Asmirandah berbisik sambil mengangkat kedua pahanya untuk mempermudah usapan jemarinya di bibir kewanitaannya.
“Lalu Abang mendorong senti, demi senti. Kakimu menggamit kuat erat pinggang Abang. Pinggulmu mulai bergoyang pelan membantu perjalanan Abang, dan Abang merasakan ujung kejantanan Abang kini telah menyentuh dinding kewanitaanmu yang terdalam”, aku merasakan cairan bVianding sedikit mengalir di bawah sana.
“Ooocchh..”, Asmirandah mengerang semakin keras, ketika ia sendiri mulai meMasukkan jemari tengahnya ke dalam liang basah itu. Asmirandah mengerang tanpa berusaha menahan suaranya.
Ia sudah tak peduli lagi. Kedua pahanya terpentang lebar dan jari tengahnya melesak menerobos di antara lembah bibir-bibir kewanitaannya. Jari itu meluncur teratur.. turun sampai melesak sedikit meMasuki liang surgawi yang berdenyut-denyut.. lalu naik menyusuri lembah licin yang hangat dan basah itu.. lalu terus naik ke atas lepitan kewanitaannya, tiba di tonjolan yang kini memerah itu.. berputar-putar di sana dua-tiga kali ..
“Aaacchh..,” erangan Asmirandah semakin jelas. Kalau saja ada orang berdiri di balik pintu dan menempelkan kupingnya, niscaya ia akan mendengar erangan itu.
ceritasex99Tangan Asmirandah bergerak semakin cepat, sementara tangan yang satunya juga terus meremas-remas payudaranya dengan geAbang. Tubuh Asmirandah berguncang-guncang oleh gerakannya sendiri.
Ia menggumamkan namaku itu dengan sedikit keras, lalu menggulingkan tubuhnya menjauh dari sisi tempat tidur. Asmirandah sudah tak lagi mempedulikan keras erangan suaranya. Ia sedang dalam perjalanan yang tak mungkin dihentikannya lagi. Ia harus sampai ke tujuan!
Aku pun merasakan tujuan asmara telah tampak di pelupuk mataku. Tanganku kini mencekal-meremas langsung kejantananku. Ada sedikit cairan licin membasahi bagian ujung kejantananku. Akibat gerakan turun naik, cairan itu terbawa oleh telapak tanganku membasahi batang kenyal-keras yang panas membara..
“Abang menggenjotmu dengan pelan, menerjangmu dengan lembut, semakin lama semakin keras.. semakin kuat Abang memompamu. Kamu meronta.. kamu meremasi rambut kepala Abang. Kamu mencakar dan menekan kulit punggung Abang. Abang menghentak.. menghentak.. semakin kuat. Dan..”, aku sengaja menghentikan fantasiku, karena ingin mendengar reaksi Asmirandah. Namun aku tidak memperlambat aktifitas tanganku di bawah sana. Gerakan tanganku semakin cepat dan teratur. Naik turun, naik turun, naik turun.. Terkadang agak lama di bagian ujung, meremas-remas dan mengepal. Menimlbukan rasa geli yang berkepanjangan, menyebar ke seluruh tubuh, menggetarkan semua otot, bahkan sampai menyebabkan ranjangku berderik-derik pelan.
“Ooochh.. Aacchh..”, Asmirandah merintih-rintih keras dalam kenikmatan sensasi fantasinya. Hanya suara rintihan itu yang bisa aku dengar dari ujung telephone selama beberapa saat. Aku terdiam mViandikmati suara rintihannya. Jemari tengah Asmirandah telah lancar ke luar Masuk, sambil sesekali ujung jempolnya menekan-berputar di klitorisnya yang tegang memerah.
ceritasex99Ranjang Asmirandah bergoyang keras ketika ia mulai merasakan dirinya mendaki puncak asmara. Kini dua jari yang melesak, mengurut, menelusur lembah sempit di bawah sana. Kini kedua pahanya terentang maksimum, membuat kewanitaanya terbuka lebar, memberikan keleluasaan gerak kepada tangannya.
Tangan yang satu lagi kini beralih ke bawah, namun gagang telephone Abangih dijepit diantara kepala dan pundaknya. Asmirandah memerlukan kedua tangannya untuk mendaki puncak gemilang birahinya. Satu tangan untuk melesakkan kedua jarinya cukup dalam ke liang surgawi yang menimlbukan rasa nikmat itu, sementara tangan yang lain mengusap-menekan-memilin tonjolan merah yang kini berdenyut-denyut itu.
Asmirandah bahkan sampai merasa perlu mengangkat pinggulnya, memberikan tekanan ekstra ke seluruh daerah kewanitaannya, menggosok-gosok keras dengan kedua tangannya..
Aku menggosok-gosok dengan cepat. Mengurut dengan keras. Naik turun tanganku semakin cepat, semakin cepat, dan semakin cepat. Nafasku terengah-engah. Kakiku terasa bagai melayang, padahal keduanya menjejak kasur dengan keras. Gagang telephone aku jepit di antara pundak dan kepalaku. Satu tanganku yang bebas kini mencengkram seprai, seakan mencegah tubuhku melambung ke langit-langit. Aku tak tahan lagi, aku menggerendeng merasakan tubuhku seperti hendak meledak.. Lalu aku benar-benar meledak. Menumpahkan cairan-cairan hangat di telapak tanganku.
Asmirandah merasakan tubuhnya mengejang, ia mencoba terus menggosok-menggesek, tetapi rasa geli-gatal begitu intens memenuhi tubuhnya. Ia tak tahan lagi. Ia mengerang parau ketika sebuah ledakan besar memenuhi dirinya. Kedua kakinya terentang kejang. Kedua tangannya mViandinggalkan daerah kewanitaannya, mencengkram seprai di kedua sisi tubuhnya. Klimaksnya datang bagai guntur bergulung-gulung..
Ketika nafas kami mulai mereda, suasana hVianding di dalam telephone itu. Sesekali aku hanya bisa mendengar hembusan nafas beratnya, demikian pula Asmirandahpun hanya bisa mendengar dengusanku.
“Miranda, kamu Abangih di sana?”, aku mengawali percakapan kembali.
“Iyaa.. Abang, Abang udah lega belum?”, ia menjawab pelan pertanyaanku.
“Abang, lega.., dan capek.., terima kasih yaa.. San. Miranda enak nggak?”, aku berkata lagi.
“Ehh..mm”, Asmirandah tidak menjawab, hanya tersenyum di seberang sana. Namun aku tahu pasti bahwa ia pun telah sangat mViandikmati ke-‘lega’-an bersamaku beberapa mViandit yang lalu.
“Miranda, kita udahan dulu yaa.. Abang mau bersih-bersih dulu nih terima kasih yaa..”, aku berkata terus terang. Aku memang harus membersihkan cairan cintaku yang tumpah ruah di atas perut dan sprei ranjangku.
“Iya Abang, Miranda juga mau mandi lagi nih.. Gerah sekali rasanya”, ia berujar. Naah.. ketahuan deh.. Miranda memang harus mandi, tetapi alasan gerah tidaklah Masuk akal, karena malam itu suhu udara dingin sekali. Namun aku tidak berusaha meledeknya untuk kealpaannya ini. Aku paling tahu, Miranda sangat sensitif pada perasaannya yang satu ini.
“Sampai besok yaa.. ILU”, aku mengakhiri percakapan.
“ILU Abang.., mimpiin Miranda yaa.., bye”, lalu Miranda menutup telephonenya.
“Siapa..?”, ujarnya sedikit malas.
“Miranda, ada telephone untuk kamu di depan”, ujar suara Viandi teman kostnya dari balik pintu.
“Dari siapa..?, Asmirandah bertanya lagi.
“Nggak bilang namanya, cuman katanya dari kakakmu, tapi suara cowok, kakak yang mana sih San..?, temannya menjawab dengan penuh selidik.
Asmirandah bergegas Abangkit dari ranjangnya, ia tahu persis siapa ‘kakaknya’ itu. Lalu sambil membuka pintu kamarnya ia berkata,
“Terima kasih yaa.. Viian, dia memang kakakku yang baru datang dari Malang..”. Asmirandah terpaksa sedikit berbohong kepada temannya mengenai siapa ‘kakaknya’ itu. Ia tidak ingin teman-temannya tahu mengenai siapa ‘kakaknya’ itu, terlebih pada Viandi teman sebelah kamarnya yang terkenal suka menggosip.
Asmirandah lalu melangkah cepat ke ruang tamu yang berseberangan dengan kamarnya. Ketika ujung gagang telephone telah diangkat ke telinganya terdengar suara lelaki yang sudah sangat diakrabinya.
“Halo Miranda, ini AAbang..”, aku menyapanya.
“Halo Abang, ini lagi di mana..”, ujar Miranda dengan nada gembira yang sengaja disembunyikannya.
“Lagi di rumah dong.., Miranda sudah mau bobo’ yaa..?”, tanyaku lagi.
“Ahh.. belum kok, Miranda belum ngantuk..”, jawab Miranda sedikir berbohong.
=
“Kenapa..?”, tanyaku lagi.
“Abis, Miranda mikirin Abang.., ‘kan mestinya hari ini udah Masuk kantor”, Miranda berkata dengan penuh terus terang.
“Terima kasih.., kamu inget sama Abang, soalnya tadi Abang Abangih capek Banget, jadi Abangih males Masuk ke kantor. Tapi ngomong-ngomong, presentasi-nya sukses lho, San. Makasih yaa.. buat bantuanmu nyiapin materi”, ujarku beralasan.
“Sama-sama, Abang.. Selamat yaa..”, ujar Asmirandah mViandimpali pernyataanku.
“Iyaa.. iya.. kalau aku sukses kan berkat kamu juga, jadi sukses kita sama-sama kan. Ehh.. ngomong-ngomong kamu lagi di ruang mana nih? #ceritasex #ceritahot #ceritamesum #ceritadewasa #ceritakimcil #vcs #chatsex
ceritasex99“Di ruang tamu, Abang”
“Lagi banyak orang nggak di situ”
“Ada si Viandi yang lagi nonton TV, yang lain udah pada bobo’. Ehh.. Abang, telephone-nya aku bawa ke kamar dulu yaa..”, bisik Asmirandah pelan. Ia berkata demikian karena khawatir Viandi akan menguping pembicaraan mereka. Kebetulan karena letak kamar Asmirandah dekat dengan ruang telephone itu, maka kabelnya dengan mudah bisa ditarik ke kamarnya melalui jendela.
“Abang, sekarang udah aman, nggak ada siapa-siapa.. nggak ada yang nguping”, Asmirandah memberi sinyal kepadaku.
“Miranda, Abang kangen.. nih sama kamu, pengin melukin kamu..”, aku mulai mengatakan perasaanku yang sebenarnya.
“Ahh.. Abang, Miranda juga kangen tapi gimana dong..?”, Asmirandah berucap pelan.
“Abang pengin Banget bercinta dengan kamu, sekarang..!!”, aku berkata jujur. Asmirandah sedikit kaget mendengar pernyataanku yang straight forward itu. Namun dalam hati ia mengagumi caraku yang tetap halus namun tanpa basa-basi itu.
“Miranda, juga.., tapi gimana”, ujar Asmirandah kembali.=
“Miranda bantuin Abang yaa..”, aku meminta kepadanya.
=
“Bantuin apa..?”, ujar Asmirandah bingung.
“Bantuin biar rasa kangen Abang terobati”
“Miranda mau mbantuin Abang apa saja, sepanjang Miranda bisa. Miranda mau Abang bahagia”, ia menjawab permintaanku dengan nada lirih hampir berbisik.
ceritasex99Mendengar pernyataannya yang terakhir itu, aku makin tidak bisa mengendalikan perasaanku, dan akupun semakin ingin membayangkan ia sedang berdiri dihadapanku saat ini. Aku ingin sekali..
“Miranda pakai baju apa sekarang?”, aku bertanya lagi.
“Pakai daster warna merah muda.., Abang pakai apa”, Miranda balik bertanya.
“Ehmm.. Abang cuman pakai celana tidur satin hitam, nggak pakai apa-apa lagi.. Kamu pakai apa di balik dastermu San..?”
“Miranda nggak biasa pakai bra kalau mau tidur, tapi Abangih pakai celana dalam warna krem”
“Yang ada renda-rendanya itu?”, aku bertanya penuh rasa penasaran.
“He.. em”, ujernya pendek.
Itulah awal pembicaraan kami di telephone yang dipenuhi oleh percakapan penuh rasa romantisme yang membakar sensualitas fantasi kami. Lalu kami saling bercerita canda panjang lebar untuk menanyakan keadaan Masing-Masing. Suara Miranda yang memang sangat seksi ditelingaku itu, seolah mendesah-desah penuh manja, membuat kejantananku semakin menegang terangsang di balik celana tidur satin yang aku kenakan.
Ditengah-tengah percakapan yang makin mendebarkan itu, Asmirandah menggeletakkan tubuhnya setelah bosan tidur miring. Kamar tidur sengaja ia gelapkan, karena ia ingin suasana percakapan itu semakin romantis, selain itu ia memang tidak akan bisa tidur dengan cahaya yang terlalu terang. Ah, tiba-tiba darah Asmirandah berdesir karena rasanya ia Abangih bisa mencium bau wangi tubuhku. Bau yang kini mulai diakrabinya: segar dan penuh aroma kejantanan. Tidak seperti tubuh lelaki lain di kantornya yang terlalu penuh minyak wangi sehingga berkesan sintetis. Ah, kini ia mulai membanding-bandingkan antara aku dengan teman-temannya yang lain, keluh Asmirandah dalam benaknya.
“Abang..,” bisiknya perlahan sambil menelungkupkan muka ke bantal,
“Apa yang ingin Abang lakukan kepadaku?”
“Miranda, Abang sedang membayangkan kamu. Kamu mau tahu nggak yang sedang Abang bayangkan..?”, aku berujar pelan.
“Hee em..”, Asmirandah mendesah lagi mengiyakan.
ceritasex99“Abang membayangkan sedang mencumbumu. Tangan Abang sedang membelai setiap centi kulit indahmu. Bibir Abang sedang mengusap-usap lembut rambut-rambut halus di belakang telingamu, lalu beralih ke bibir indahmu”, aku mulai menceritakan fantasiku kepadanya.
Di depan mataku seakan-akan ada sebuah film yang diputar berulang-ulang, berisi gambar indah percumbuan kami yang sangat singkat tetapi sangat menggairahkan itu. Bibir basah yang merekah pasrah itu, tergambar jelas di mataku. Harum nafasnya yang menggairahkan itu, tercium jelas di hidungku. Kelembutan lidah dan bagian dalam mulut itu.. hmm, semuanya terasa seperti nyata malam ini. Amat sangat nyata, sampai-sampai aku menelan ludah berkali-kali. Jantungnya berdegup kencang, seperti ketika waktu itu aku melumat bibir bidadari yang amat aku dambakan.
“Teruss..?”, Asmirandah berucap pelan sambil mulai memejamkan matanya. Bayangan percumbuan kami di dalam mobil seminggu yang lalu nampak jelas di pelupuk matanya.
Asmirandah Abangih ingat betapa aku mengulum lembut bibir tipisnya dengan luapan perasaan yang apa adanya. Betapa menggairahkannya ciuman itu! Aku melakukannya dengan sepenuh hati, sehingga rasanya tidak setengah-setengah. Ketika aku mengulum bibirnya, aku melakukannya dengan penuh perasaan, membuat dirinya terbuai-buai bagai tidur di atas awan di angkasa sana. Tak sadar Asmirandah meraba bibirnya dengan ujung jari. Ia dengan mudah bisa merasakan kembali ciuman itu. Tak mungkin ia bisa melupakannya.
ceritasex99“Terus bibir Abang turun ke arah lehermu. Lalu Lidah Abang menyapu-nyapu lembut di sana dan kamu merasa geli tetapi juga nikmat.. Kamu bisa merasakannya, ‘yang?”, aku melanjutkan.
“Oocch.. iyaa.. Abang, teruss..”, Miranda semakin tidak sabar menuggu kelanjutannya sambil jemari tangannya membelai-belai lehernya sendiri, mengikuti fantasiku. Jemarinya mengalir pelan di sepanjang lehernya yang jenjang, sesekali berhenti di belakang telinganya lalu mengalir turun ke arah dadanya.
“Bibir Abang semakin turun ke bawah, turun.. dan turun pelan-pelan sekali. Sekarang, Abang sedang melumati kedua puting payudaramu, bergantian yang kiri.. lalu yang kanan.. Tangan Abang meremasnya lembut.. Ooocch.. Miranda, Abang rasanya nikmat sekali.. Kamu juga merasakan hal yang sama, sayang?”, aku berhenti sejenak. Aku mendengar Asmirandah mendengus pelan..
Asmirandah tidak kuasa melupakan betapa dadanya yang kenyal dihisap oleh bibirku dan diremas oleh tangan kokohku itu. Oh, itulah cumbuan dan remasan yang tak kalah menggairahkan dari ciuman dibibirnya. Jemari dan bibiriku seperti penuh oleh energi pembakar sukma yang mengirimkan jutaan bulir kenikmatan ke seluruh tubuhnya. Tak sadar, Asmirandah mengerang kecil, meremas seprai dengan satu tangannya. Ia seperti merasakan lagi hisapan dan remasan jemari itu di dadanya. Gesekan nilon tipis pakaian tidurnya tiba-tiba seperti mewakili remasan itu. Ia tidur tanpa beha
kISAH NYATA CERITA DEWASA : www.tempatceritasex.com
Oh, kedua putingnya ternyata sudah mengeras. Kenapa jadi begini? Keluh Asmirandah sambil mengerang lagi, lalu memiringkan badannya, meraih bantal guling.
Lalu kembali aku melanjutkan fantasiku
“..putingmu, keduanya mulai mengeras dan semakin mengeras. Warnanya merah kecoklatan, kecil, panjang dan makin menjulang.. Abang juga menciumi lingkaran coklat di sekelilingnya, bergantian yang kiri dan yang kanan. Kamu mulai menggelinjang.. kamu meremasi rambut Abang dan menekan kuat-kuat kepala Abang di dadamu”, aku menceritakan fantasiku sambil membayangkan seolah-olah aku memang melakukan aktifitas itu.
ceritasex99“Oocch.. Abang, teruskan..”, Asmirandah mendesah lagi ketika aku terdiam sesaat. Tangannya meraba lembut di atas dadanya, dan ternyata memang benar.., putingnya telah mulai mengeras. Ia tersenyum sambil matanya tetap terpejam, sementara telinganya tetap berkonsentrasi penuh untuk mendengarkan suaraku di seberang sana.
“Tanganmu kini juga mulai meremas-remas lembut kejantanan Abang di bawah sana. Miranda.., kamu memang luar biasa.. Kamu mengusap sepanjang batangnya, pelan-pelan ke atas lalu kebawah lalu ke atas lagi. Remasan jemarimu berhenti di pangkal bagian atasnya yang membulat keras, lalu sesekali jari telunjukmu menyentuh-berputar pada luAbang di ujungnya. Kamu mengusapnya lagi ke arah bawah pelan sekali, kamu meremasi ke dua bola di pangkal bawahnya, kamu memeras, meremasnya di sana.. Oocchh..”, aku berhenti sejenak. Tanganku tetap bergerak-gerak di bawah sana melakukan aktifitas seperti yang aku ceritakan kepadanya.
Udara dingin menyebabkan aku harus menyelimuti badanku, tetapi sentuhan selimut di atas kejantananku yang hanya tersaput celana dalam tipis ternyata berdampak lain. Kenangan erotis tentang Asmirandah membuat diriku terbakar birahi. Perlahan tapi pasti, kejantananku menegang. Semakin lama, semakin tegang, berdenyut penuh gairah.
“Oocchh.. Abang.. Miranda juga sedang membayangkan hal itu terjadi sekarang”, Miranda pun mulai benar-benar hanyut dalam fantasi yang sama denganku.
Kira-kira hampir semViandit kami berdua hVianding, tidak bersuara. Kami benar-benar sedang terhanyut dalam sensasi seksual Masing-Masing, sementara Masing-Masing tangan kami yang terbebas dari gagang telephone melakukan aktifitas untuk memAbangkitkan gairah. Suara dengusan, rintihan pelan dan hembusan nafas panjang saling mViandimpali, membuat suasana semakin romantis. Ketika aku semakin tidak kuasa menahan rasa geli, nikmat di bawah sana, aku menghentikan aktifitas tanganku. Aku mengangkat sedikit tubuhku dan dengan sekuat tenaga aku turunkan sedikit celana tidurku dengan satu tangan, untuk memberikan keleluasaan pada kejantananku.
ceritasex99“Asmirandah,” bisikku, “Sedang apa kamu di sana? Kamu mau tahu nggak apa yang Abang barusan lakukan?”
“Hee.. emm..”, desahnya pendek.
“Celana tidur Abang sekarang telah terlepas, kejantanan Abang sudah tegak menegang, kamu Abangih ingat jelas bentuknya ‘kan? Sekarang maukah kamu melepas celana dalam kamu juga ‘yang..?”, aku menceritakan keadaanku sekaligus memohon kepadanya untuk melakukan hal yang sama.
“Iyaa.. Abang, sekarang Miranda juga sudah terbebas..”, ujar Asmirandah mengabulkan permintaanku. Celana dalamnya telah beranjak ke bawah pahanya. Sebenarnya sudah sedari tadi ia ingin melakukan hal itu.
Angin dingin menimlbukan suara berkesiut di luar jendela kamar tidur Asmirandah. Ia menelentang kembali, kini dengan mata terbelalak sepenuhnya. Kamar tidur yang senyap itu sebenarnya dingin sekali. Tetapi tubuh Asmirandah seperti dibakar api, dan ia terkejut sendiri ketika tak sengaja tangannya menyentuh selangkangannya. Celana dalamnya agak basah, dan sebuah rasa geli yang telah lama ia tak rasakan ternyata muncul di sana.
“Oh, aku begitu terangsang malam ini”, desah Asmirandah panik di dalam hati.
“Jangan dulu kamu sentuh yang di bawah sana, Miranda. Please, tanganmu tetap berada di atas. Sekarang kamu arahkan jemari ke mulutmu, lalu kamu hisap pelan, kamu jilat basah hingga pangkal jemari telunjukmu..”, aku melanjutkan permohonanku.
“He.. emm..”, Miranda mendesah sambil mulai meMasukkan jemari ke dalam mulut kecilnya. Jemarinya basah oleh cairan ludahnya sendiri, ia sedang mengkhayalkan sebentuk daging bulat, panjang, lebih besar dan lebih keras dari sosis. Ia mengulumnya pelan, dan sesekali menghisapnya dengan sepenuh perasaan.
“Please, sekarang jemarimu yang basah kamu tarik dari mulutmu, Miranda. Kamu usapkan jemarimu di mana sekarang, ‘yang..?”
Cepat-cepat Asmirandah memindahkan tangannya, tetapi tangan itu jatuh di atas dadanya. Untuk sejenak, ia mencoba mengatur nafasnya yang mulai terengah, tetapi tanpa diperintah tangan itu ternyata mulai meraba-raba. Asmirandah menggelinjang. Asmirandah mendesah gelisah.
ceritasex99Rasa geli menyelimuti puncak-puncak dadanya. Rasa geli yang minta digaruk. Maka menggaruklah jemari-jemarinya, mengusap dan membelai pula. Gagang telephone ia jepit di antara pundak dan kepalanya, dua tangan kini ada di dadanya. Dua-duanya meremas, mengusap, menggaruk, membelai.. Asmirandah mendesahkan namaku berkali-kali dengan bisikan tertahan; kuatir teman di sebelah kamar kost-nya terAbangun.
“Oocchh.. Abang, Miranda sedang memilin lembut puting Miranda. Oocchh.. Abang.. keras sekali, Miranda ingin Abang menggigitnya, Miranda ingin Abang meremasinya.., pelan saja Abang..”, Asmirandah berkata demikian sambil jemari telunjuk dan jempolnya memilin-memutar putingnya dengan lembut.
“Iya.. Sayang, Abang sedang menjepitnya dengan bibir Abang, lalu lidah Abang menyapu-nyapu di ujung putingnya.. Enak sayang..?”, akupun tak kalah dalam mengimbangi fantasinya.
“Iyaa.. Abang.., sekarang tangan Miranda ada di atas perut Miranda”, Asmirandah melanjutkan.
“Iyaa.. sayang, bibir Abang sekarang sedang mencium lembut perutmu yang putih. Lidah Abang berputar-putar di sekitar pusarmu. Lalu Abang turun ke pangkal pahamu.. Terus bibir Abang berhenti di sana..”, aku berhenti untuk menunggu reaksinya.
ceritasex99Asmirandah tak tahan lagi. Dengan satu tangan tetap meremas-remas dadanya sendiri, ia mengusap-usap kewanitaanya dengan tangan yang lain. Celana nilon tipis Abangih menutup sebagian di sana, tetapi tentu saja tak mampu mencegah rasa nikmat yang datang dari telapak tangannya. Apalagi kemudian Asmirandah menelusupkan tangan itu ke balik celana dalamnya, menemukan lembah sempit di bawah sana telah basah oleh cairan cinta. Menemukan pula tonjolan kecil di bagian atas telah menyeruak keluar dari persembunyiannya, menonjol diam-diam menanti sentuhan jarinya.
“Oochh..”, Miranda mengerang pelan sementara jemarinya kini tengah berada tepat di atas gerAbang kewanitaannya yang telah terbebas. Ia benar-benar telah memelorotkan celana dalamnya.
“Lalu Abang menyentuhi rambut kewanitaanmu dengan bibir Abang. Lalu Abang menjilat-jilat lembut bibir kewanitaanmu di bawah sana. Lalu Abang gigit pelan klitorismu.. Abang hisap.., Abang.. gigit, Abang.. hisap lagi. Telunjuk Abang sesekali berputar-putar di atas daging kecil merah itu..”, aku kembali mengendalikan fantasinya.
“Oocch.. Abang, Miranda pengin Abang.. Miranda pengiinn.. oochh.. sekarang..”, Miranda tidak kuasa meneruskan kata-katanya.
“Iya.. sayang, Abang juga.. Abang sekarang akan meMasukkan jemari Abang ke dalam kewanitaanmu Miranda..”, aku berbisik lembut kepadanya.
“Oocchh..”, Miranda mengerang pelan.
Asmirandah menggigit bibir bawahnya, tersentak bagai tersengat listrik, ketika ujung telunjuknya tak sengaja menyentuh tonjolan kenikmatan itu. Sebuah desah cukup keras menghambur keluar dari mulutnya. Untung teman-teman sekostnya sudah terlelap sehingga mungkin tak akan terAbangun walau Asmirandah berteriak sekali pun.
“Jemari Abang Masuk.., berdenyut lembut di dalam sana. Kamu menghentak, kamu menjepit. Jemari Abang keluar.. Masuk.. keluar.. Masuk.. pelan sekali.. lembut sekali.. Semakin licin, kamu semakin berdenyut, kamu menggelepar pelan..”, aku berkata demikian sambil semakin keras mengocok kejantananku sendiri.
Aku meraba-raba kejantananku. Mengerang pelan karena merasakan tubuhku mulai bereaksi seperti biasanya, menyebabkan semua ototku terasa menegang, bagai seorang pelari yang sedang bersiap-siap melesat dari garis start. Kejantananku sudah menegang setegang-tegangnya. Bergetar seirama degup jantungku yang tak teratur. Naik turun seirama nafasnya yang mulai memburu.
Mula-mula, aku hanya mengusap-usap kejantananku di atas kulit lembutnya. Mengelus-elus perlahan, menimlbukan rasa geli yang samar-samar, seakan-akan untuk meAbangtikan bahwa segalanya berjalan perlahan menuju tempat tujuan. Tetapi, sebentar kemudian gerakan tanganku semakin cepat, bukan lagi mengusap tetapi menguyak-uyak. Nafasku semakin memburu. Rasa geli yang nikmat tersebar sepanjang kejantananku yang terasa bagai batang besi panas membara.
ceritasex99“Abang.., sekarang Miranda benar-benar sudah basah.., Miranda ingin bercinta dengan Abang.. Masukkan kejantananmu sekarang Abang, please..”, sekarang giliran Miranda yang memohon kepadaku.
“Iya sayang.., kejantanan Abang juga sudah keras menegang. Sekarang Abang mengarahkannya ke dalam gerAbang kewanitaanmu, tanganmu meremas batang kejantanan Abang, sembari mengarahkan ujungnya ke sana. Abang mengusapkan pada bibir kewanitaanmu, Abang merasakan basahnya cairan cintamu, lalu Abang melesak pelan”, aku berkata dengan cepat sambil tanganku semakin keras meremasi kejantananku.
Aku tak tahan lagi. Tanganku memelorotkan celana tidurku makin jauh, meremas batang tegang yang membara di bawah sana. Lalu dengan tidak sabar aku memelorotkan lagi celana tidurku hingga ke mata kakiku, hingga kini kejantananku bisa benar-benar terbebas, tegang menjulang. Jemariku meremasinya, membelai di sepanjang batangnya.., pelan sekali.., lembut sekali.. dari atas ke bawah, keatas, kebawah lagi.. Segera aku merasakan pinggulku bagai berubah menjadi kaldera gunung berapi yang penuh lahar menggelegak. Setiap kali aku meremas, setiap kali pula gelegak itu bagai hendak meluap keluar. Setiap kali pula aku mengerang dengan otot leher menegang seperti seorang yang sedang menahan sesuatu dengan susah payah.
Remasan tanganku semakin lama semakin teratur, diikuti gerakan naik turun seperti memeras. Setiap kali gerakan itu sampai ke ujung yang membengkak-membola itu, aku merasakan tubuhku seperti disedot ke dalam pusaran air birahi. Aku menggeliat-geliat keenakan. Kedua kakiku merentang tegang, dengan tumit tenggelam dalam-dalam di kasur. Aku mengerang.
ceritasex99“Ooochh.., teruskan Abang..”, Asmirandah berbisik sambil mengangkat kedua pahanya untuk mempermudah usapan jemarinya di bibir kewanitaannya.
“Lalu Abang mendorong senti, demi senti. Kakimu menggamit kuat erat pinggang Abang. Pinggulmu mulai bergoyang pelan membantu perjalanan Abang, dan Abang merasakan ujung kejantanan Abang kini telah menyentuh dinding kewanitaanmu yang terdalam”, aku merasakan cairan bVianding sedikit mengalir di bawah sana.
“Ooocchh..”, Asmirandah mengerang semakin keras, ketika ia sendiri mulai meMasukkan jemari tengahnya ke dalam liang basah itu. Asmirandah mengerang tanpa berusaha menahan suaranya.
Ia sudah tak peduli lagi. Kedua pahanya terpentang lebar dan jari tengahnya melesak menerobos di antara lembah bibir-bibir kewanitaannya. Jari itu meluncur teratur.. turun sampai melesak sedikit meMasuki liang surgawi yang berdenyut-denyut.. lalu naik menyusuri lembah licin yang hangat dan basah itu.. lalu terus naik ke atas lepitan kewanitaannya, tiba di tonjolan yang kini memerah itu.. berputar-putar di sana dua-tiga kali ..
“Aaacchh..,” erangan Asmirandah semakin jelas. Kalau saja ada orang berdiri di balik pintu dan menempelkan kupingnya, niscaya ia akan mendengar erangan itu.
ceritasex99Tangan Asmirandah bergerak semakin cepat, sementara tangan yang satunya juga terus meremas-remas payudaranya dengan geAbang. Tubuh Asmirandah berguncang-guncang oleh gerakannya sendiri.
Ia menggumamkan namaku itu dengan sedikit keras, lalu menggulingkan tubuhnya menjauh dari sisi tempat tidur. Asmirandah sudah tak lagi mempedulikan keras erangan suaranya. Ia sedang dalam perjalanan yang tak mungkin dihentikannya lagi. Ia harus sampai ke tujuan!
Aku pun merasakan tujuan asmara telah tampak di pelupuk mataku. Tanganku kini mencekal-meremas langsung kejantananku. Ada sedikit cairan licin membasahi bagian ujung kejantananku. Akibat gerakan turun naik, cairan itu terbawa oleh telapak tanganku membasahi batang kenyal-keras yang panas membara..
“Abang menggenjotmu dengan pelan, menerjangmu dengan lembut, semakin lama semakin keras.. semakin kuat Abang memompamu. Kamu meronta.. kamu meremasi rambut kepala Abang. Kamu mencakar dan menekan kulit punggung Abang. Abang menghentak.. menghentak.. semakin kuat. Dan..”, aku sengaja menghentikan fantasiku, karena ingin mendengar reaksi Asmirandah. Namun aku tidak memperlambat aktifitas tanganku di bawah sana. Gerakan tanganku semakin cepat dan teratur. Naik turun, naik turun, naik turun.. Terkadang agak lama di bagian ujung, meremas-remas dan mengepal. Menimlbukan rasa geli yang berkepanjangan, menyebar ke seluruh tubuh, menggetarkan semua otot, bahkan sampai menyebabkan ranjangku berderik-derik pelan.
“Ooochh.. Aacchh..”, Asmirandah merintih-rintih keras dalam kenikmatan sensasi fantasinya. Hanya suara rintihan itu yang bisa aku dengar dari ujung telephone selama beberapa saat. Aku terdiam mViandikmati suara rintihannya. Jemari tengah Asmirandah telah lancar ke luar Masuk, sambil sesekali ujung jempolnya menekan-berputar di klitorisnya yang tegang memerah.
ceritasex99Ranjang Asmirandah bergoyang keras ketika ia mulai merasakan dirinya mendaki puncak asmara. Kini dua jari yang melesak, mengurut, menelusur lembah sempit di bawah sana. Kini kedua pahanya terentang maksimum, membuat kewanitaanya terbuka lebar, memberikan keleluasaan gerak kepada tangannya.
Tangan yang satu lagi kini beralih ke bawah, namun gagang telephone Abangih dijepit diantara kepala dan pundaknya. Asmirandah memerlukan kedua tangannya untuk mendaki puncak gemilang birahinya. Satu tangan untuk melesakkan kedua jarinya cukup dalam ke liang surgawi yang menimlbukan rasa nikmat itu, sementara tangan yang lain mengusap-menekan-memilin tonjolan merah yang kini berdenyut-denyut itu.
Asmirandah bahkan sampai merasa perlu mengangkat pinggulnya, memberikan tekanan ekstra ke seluruh daerah kewanitaannya, menggosok-gosok keras dengan kedua tangannya..
Aku menggosok-gosok dengan cepat. Mengurut dengan keras. Naik turun tanganku semakin cepat, semakin cepat, dan semakin cepat. Nafasku terengah-engah. Kakiku terasa bagai melayang, padahal keduanya menjejak kasur dengan keras. Gagang telephone aku jepit di antara pundak dan kepalaku. Satu tanganku yang bebas kini mencengkram seprai, seakan mencegah tubuhku melambung ke langit-langit. Aku tak tahan lagi, aku menggerendeng merasakan tubuhku seperti hendak meledak.. Lalu aku benar-benar meledak. Menumpahkan cairan-cairan hangat di telapak tanganku.
Asmirandah merasakan tubuhnya mengejang, ia mencoba terus menggosok-menggesek, tetapi rasa geli-gatal begitu intens memenuhi tubuhnya. Ia tak tahan lagi. Ia mengerang parau ketika sebuah ledakan besar memenuhi dirinya. Kedua kakinya terentang kejang. Kedua tangannya mViandinggalkan daerah kewanitaannya, mencengkram seprai di kedua sisi tubuhnya. Klimaksnya datang bagai guntur bergulung-gulung..
Ketika nafas kami mulai mereda, suasana hVianding di dalam telephone itu. Sesekali aku hanya bisa mendengar hembusan nafas beratnya, demikian pula Asmirandahpun hanya bisa mendengar dengusanku.
“Miranda, kamu Abangih di sana?”, aku mengawali percakapan kembali.
“Iyaa.. Abang, Abang udah lega belum?”, ia menjawab pelan pertanyaanku.
“Abang, lega.., dan capek.., terima kasih yaa.. San. Miranda enak nggak?”, aku berkata lagi.
“Ehh..mm”, Asmirandah tidak menjawab, hanya tersenyum di seberang sana. Namun aku tahu pasti bahwa ia pun telah sangat mViandikmati ke-‘lega’-an bersamaku beberapa mViandit yang lalu.
“Miranda, kita udahan dulu yaa.. Abang mau bersih-bersih dulu nih terima kasih yaa..”, aku berkata terus terang. Aku memang harus membersihkan cairan cintaku yang tumpah ruah di atas perut dan sprei ranjangku.
“Iya Abang, Miranda juga mau mandi lagi nih.. Gerah sekali rasanya”, ia berujar. Naah.. ketahuan deh.. Miranda memang harus mandi, tetapi alasan gerah tidaklah Masuk akal, karena malam itu suhu udara dingin sekali. Namun aku tidak berusaha meledeknya untuk kealpaannya ini. Aku paling tahu, Miranda sangat sensitif pada perasaannya yang satu ini.
“Sampai besok yaa.. ILU”, aku mengakhiri percakapan.
“ILU Abang.., mimpiin Miranda yaa.., bye”, lalu Miranda menutup telephonenya.

Komentar
Posting Komentar